Sikap Romantis Nabi Muhammad SAW

Sikap Romantis Nabi Muhammad SAW

Sikap Romantis Nabi Muhammad SAW- Sikap romantis biasanya diharapkan oleh para wanita terhadap pasangannya, namun sekarang jarang sekali kita melihat suami dan istri saling besikap romantis, malu katanya kalo dilihat anak,,,, tapi ada kalanya seorang istri dan suami harus bersikap romantis agar bisa menjaga keharmonisan keluarga, seperti yang nabi Muhammad lakukan pada istrinya.

Contoh sederhana, Rasul menyapa istrinya dengan sapaan hangat dan baik. Rasul menyapa Khadijah dengan sebutan ya habibi, wahai kekasihku. Begitu juga dengan Aisyah, yang disapa dengan ya humaira’ wahai wanita yang pipinya kemerahan. karana Aisyah mempunyai pipi yang aga kemerahan.

Tengku menyayangkan, teladan ini tak banyak dipraktikkan umat. Malah justru panggilan lembut dan romantis itu ditiru oleh orang Barat. Selama hidup 25 tahun dengan Khadijah tidak ada kata-kata maupun perbuatan kasar.

Rasulpun tidak menyakiti istri pertamanya Khadijah dengan menduakannya. Rasul hanya memiliki satu orang istri sejak menikah dengan Khadijah pertama kali pada usia 25 tahun dengan perbedaan usia 15 tahun lebih tua.
Rasul baru menikah kembali setelah satu tahun Siti Khadijah wafat. Hal itupun setelah didesak oleh sahabat nabi karena kaum wanita kesulitan belajar agama dari teladan Rasul.

Imam Al-Bukhari mencantumkan perkataan Aisyah ini dalam dua bab di dalam sahihnya, yaitu Bab Muamalah Seorang (suami) dengan Istrinya dan Bab Seorang Suami Membantu Istrinya.
Urwah bertanya kepada Aisyah
“Wahai Ummul Mukminin, apa yang diperbuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu di rumah?”, Aisyah menjawab, “Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember.”

Berikut ini beberapa kisah yang menunjukkan tawadhu’nya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan istri-istrinya :

Dari Anas bin Malik ia berkisah,
“Suatu saat Nabi halallahu ‘alaihi wa sallam di tempat salah seorang istrinya maka istrinya yang lain mengirim sepiring makanan. Maka istrinya yang sedang bersamanya ini memukul tangan pembantu sehingga jatuhlah piring dan pecah sehingga makanan berhamburan. Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengumpulkan makanan yang tadinya di piring, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ibu kalian cemburu…”
Ibnu Hajar mengatakan,
“Perkataan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, ‘ibu kalian cemburu’ adalah udzur dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam agar apa yang dilakukan istrinya tersebut tidak dicela. Rasulullah memaklumi bahwa sikap tersebut biasa terjadi di antara seorang istri dengan madunya karena cemburu. Rasa cemburu itu memang merupakan tabiat yang terdapat dalam diri (wanita) yang tidak mungkin untuk ditolak.”
Ibnu Mas’ud meriwayatkan sebuah hadis dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,
“Allah menetapkan rasa cemburu pada para wanita, maka barangsiapa yang sabar terhadap mereka, maka baginya pahala orang mati syahid.” (Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazar dan ia mengisyaratkan akan sahihnya hadis ini. Para perawinya tsiqoh (terpercaya) hanya saja para ulama memperselisihkan kredibilitas seorang perawi yang bernama Ubaid bin AS-Sobbah.)

Subscribe to receive free email updates: