Hikmah Mengangkat Kedua Tangan Saat Sholat

Hikmah Mengangkat Kedua Tangan Saat Sholat

Hikmah dan Makna Mengangkat Kedua Tangan Setelah Takbir - Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat tangan beliau bersamaan dengan takbir, di waktu lain sebelum takbir dan pernah pula setelah bertakbir. Dalilnya di antaranya hadits-hadits berikut ini:- Bersamaan dengan takbir Abdullah ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

رَأَيتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم افْتَتَحَ التَّكبِيرَ فِي الصَّلاَةِ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى
يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيهِ

“Aku pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat dengan bertakbir, lalu beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir, hingga beliau menjadikan kedua tangannya setentang (sejajar) dengan kedua pundaknya….” (HR. Al-Bukhari no. 736)

Di antara sunnah yang tertuntut dilakukan di dalam shalat yang mengiringi takbiratul ihram adalah mengangkat kedua tangan yang selanjutnya diletakkan di atas dada. Telah jelas dalil-dalil yang menunjukkan secara detail bagaimana cara mengangkat kedua tangan tersebut. Secara ringkas cara tersebut adalah:

  • Mengangkat kedua tangan bisa dilakukan dengan tiga cara, sebelum takbiratul ihram (HR. Bukhari dalam Raf’ul Yadain 16), bersamaan dengan takbiratul ihram (HR. Bukhari 2/176) dan sesudah takbiratul ihram (HR. Muslim 391).

  • Ketinggian mengangkat tangan bisa setinggi pundak  (HR. Al-Bukhari 2/735/218) atau setinggi ujung atas daun telinga (HR. An-Nasa`i 2/206 dan Ahmad 493, dan ini adalah hadits shahih).

  • Posisi jari-jari tangan biasa saja, tidak terlalu dibuka (tidak direnggangkan) dan juga tidak dirapatkan (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi) .


Hikmah Mengangkat Kedua Tangan Dalam Sholat

Mengetahui hikmah suatu ibadah adalah sesuatu yang penting artinya dalam peribadatan, karena dengan memahami hikmah sebuah ibadah akan muncul di hati seorang hamba keindahan Islam melalui ibadah yang dilakukannya, sehingga diharapkan semakin besarlah kecintaan hatinya terhadap ibadah tersebut, riang hati ketika melakukannya, menunggu-nunggu datangnya waktu ibadah itu lagi serta terdorong untuk menunaikannya dengan sebaik-baiknya.

Lain halnya ketika seseorang tidak memahami rahasia keindahan suatu ibadah dan salah memandang hakikat peribadatan tersebut, maka bisa saja ia melakukan ibadah tersebut asal-asalan, tidak memiliki ruh ibadah, merasa berat menunaikannya, menjadi beban bagi dirinya, ingin cepat selesai saat mengerjakannya, bahkan ia akan merasa jengkel setiap kali datangnya waktu ibadah terebut. Oleh itu, dari masa ke masa, ulama berusaha menjelaskan kepada umat ini tentang berbagai rahasia mutiara hikmah peribadatan.

Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah ketika menjawab pertanyaan, “Jika ada orang yang bertanya apa hikmah dari gerakan mengangkat kedua tangan (dalam shalat)? maka jawabannya adalah hikmah dalam gerakan tersebut adalah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Rahimahullah menyatakan,

“Bersamaan dengan itu memungkinkan kita merenungi (hikmah yang lain), barangkali kita mendapatkan hikmah dari perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita menyatakan bahwa hikmah dalam gerakan mengangkat kedua tangan adalah mengagungkan Allah ‘Azza wa Jalla, sehingga terkumpul pengagungan dengan ucapan (takbiratul ihram) dan pengagungan dengan perbuatan (pengangkatan dua tangan) sekaligus, serta bentuk ibadah kepada Allah dengan keduanya”

Ulama lainnya ada yang menyatakan hikmah pengangkatan kedua tangan, yaitu:

أنَّ ذلك مِن زينة الصَّلاةِ؛ لأنَّ الإِنسان إذا وَقَفَ وكبَّر بدون أن يتحرَّك لم تكن الصَّلاةُ

على وَجْهٍ حَسَنٍ كامل

“Bahwa gerakan itu termasuk perhiasan shalat, karena manusia jika berdiri dan bertakbir tanpa bergerak, maka tidaklah mencerminkan keindahan yang sempurna” (Syarhul Mumti‘: 3/33-34).

Subscribe to receive free email updates: