Perang Terbesar dalam Sejarah Islam

Perang Terbesar dalam Sejarah Islam

Perang Terbesar dalam Sejarah Islam - Perang adalah sebuah aksi fisik dan non fisik (dalam arti sempit, adalah kondisi permusuhan dengan menggunakan kekerasan) antara dua atau lebih kelompok manusia untuk melakukan dominasi di wilayah yang dipertentangkan. Dalam sejarah islam ada 5 perang terbesar antara lain perang Badar, perang Uhud, perang Mu'tah, perang Ahzab dan perang Tabuk.

Perang Badar


Pertempuran Badar adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Mac 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah. Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah 1,000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian berundur dalam kekacauan.

Bagi kaum Muslimin terawal, pertempuran ini sangatlah berarti kerana merupakan bukti pertama bahawa mereka sesungguhnya berpeluang untuk mengalahkan musuh mereka di Mekkah. Mekkah ketika itu merupakan salah satu kota terkaya dan terkuat di Semenanjung Arab di zaman jahiliyah. Kemenangan kaum Muslim juga memperlihatkan kepada suku-suku Arab lainnya bahawa suatu kekuatan baru telah bangkit di Semenanjung Arabi, serta memperkukuhkan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin terhadap berbagai golongan masyarakat Madinah yang sebelumnya sering ditindas. Berbagai suku Arab mulai memeluk agama Islam dan membangunkan persekutuan dengan kaum Muslim di Madinah; dengan demikian, penyebaran agama Islam pun dipertingkatkan.

Perang Uhud


Perang Uhud adalah pertempuran yang meletus antara kaum muslimin dan kaum kafir Quraisy pada tanggal 22 Mac 625 M (7 Syawal 3 H). Pertempuran ini terjadi kurang lebih setahun setelah Pertempuran Badar. Tentara Islam berjumlah 700 orang sedangkan tentara kafir berjumlah 3,000 orang. Tentara Islam dipimpin sendiri oleh Rasulullah SAW sedangkan tentara kafir dipimpin oleh Abu Sufyan. Disebut Perang Uhud kerna terjadi di dekat bukit Uhud yang terletak 4 batu dari Masjid Nabawi dan mempunyai ketinggian 1000 kaki dari permukaan tanah dengan panjang 5 batu.

Semasa keadaan sedang genting itu, Abdullah bin Ubay, seorang munafiq, telah melakukan khianat dengan memujuk kaum muslimin untuk kembali ke Madinah. Sepertiga pasukan, atau sekitar tiga ratus orang akhirnya berundur. Abdullah bin Ubay mengatakan,
“Kami tidak tahu, mengapa kami membunuh diri kami sendiri?”
Setelah mundurnya tiga ratus orang tersebut, Rasulullah SAW menyusun semula kekuatan dengan sisa pasukan yang jumlahnya sekitar 700 pejuang untuk meneruskan perang. Allah SWT memberi mereka kemenangan, meskipun pada awalnya dalam kucar kacir.

Perang Mu’tah


Perang Mu’tah terjadi pada 629 M atau 5 Jumadil Awal 8 Hijriah, dekat kampung yang bernama Mu’tah, di sebelah timur Sungai Jordan dan Al Karak, antara pasukan Khulafaur Rasyidin yang dihantar oleh Nabi Muhammad SAW dan tentara Kerajaan Romawi Timur (Bashra).

Perang Mu’tah merupakan pendahuluan dan jalan pembuka untuk menaklukkan negeri-negeri Nasrani. Puncak perang Mu’tah adalah saat terjadi pembunuhan utusan Rasulullah SAW bernama al-Harits bin Umair yang diperintahkan menyampaikan surat kepada pemimpin Bashra. Al-Harits ditahan oleh Syurahbil bin Amr, seorang gabenor wilayah Balqa di Syam, ditangkap dan dipenggal lehernya. Untuk menghadapi perang ini, Rasulullah SAW mempersiapkan pasukan berkekuatan tiga ribu orang pejuang. Inilah pasukan Islam terbesar pada waktu itu.

Mereka bergerak ke arah utara dan beristirahat di Mu’an. Ketika itulah mereka memperoleh kabar bahwa Heraklius telah berada di salah satu bahagian wilayah Balqa dengan kekuatan sekitar seratus ribu tentera Romawi. Mereka bahkan mendapat bantuan dari pasukan Lakhm, Judzam, Balqin dan Bahra kurang lebih seratus ribu orang tentera. Jadi jumlah kekuatan mereka adalah dua ratus ribu orang tentera.

Perang Ahzab


Dua puluh pemimpin Yahudi bani Nadhir datang ke Makkah untuk melakukan provokasi agar kaum kafir bersatu untuk menumpas kaum muslimin. Pemimpin Yahudi bani Nadhir juga mendatangi Bani Ghathafan dan mengajak mereka untuk melakukan apa yang mereka serukan pada orang Quraisy. Selanjutnya mereka mendatangi kabilah-kabilah Arab di sekitar Makkah untuk melakukan hal yang sama. Semua kelompok itu akhirnya sepakat untuk bergabung dan menghapuskan kaum muslimin di Madinah sampai ke akar umbi.

Jumlah keseluruhan pasukan Ahzab (sekutu) adalah sekitar sepuluh ribu orang tentera. Jumlah itu disebutkan dalam kitab sirah adalah lebih banyak berbanding jumlah orang-orang yang tinggal di Madinah secara keseluruhan, termasuk wanita, anak-anak, pemuda dan orang tua. Menghadapi kekuatan yang sangat besar ini, atas ide Salman al-Farisi, kaum muslimin menggunakan strategi penggalian parit untuk menghalangi sampainya pasukan musuh ke wilayah Madinah.

Perang Tabuk


Perang Tabuk atau juga Ekspedisi Tabuk, adalah ekspedisi yang dilakukan umat Islam pimpinan Nabi Muhammad SAW pada 630 M atau 9 H, ke Tabuk, yang sekarang terletak di wilayah Arab Saudi di bahagian barat laut. Rom memiliki kekuatan tentera paling besar pada ketika itu. Perang Tabuk merupakan lanjutan dari perang Mu’tah. Kaum muslimin mendengar persiapan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan Rom dan raja Ghassan. Maklumat tentang jumlah pasukan yang dihimpun adalah sekitar empat puluh ribu orang. Keadaan semakin kritikal, kerana musim kemarau. Kaum muslimin tengah berada di tengah kesulitan dan kekurangan bekalan.

Untuk melindungi umat Islam di Madinah, Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk melakukan strategi pertahanan, dan menyiapkan pasukan. Hal ini disulitkan lahi dengan berlakunya kebuluran di tanah Arab dan kurangnya bilangan umat Muslimin. Namun, Nabi Muhammad SAW berhasil mengumpulkan pasukan yang terdiri dari 30,000 orang, jumlah pasukan terbanyak yang pernah dimiliki umat Islam.

Setelah sampai di Tabuk, umat Islam tidak menemui pasukan tentera Bizantium ataupun sekutunya. Menurut sumber-sumber Muslim, mereka melarikan diri ke utara setelah mendengar kedatangannya pasukan Nabi Muhammad SAW. Pasukan Muslimin berada di Tabuk selama 10 hari. Ekspedisi ini dimanfaatkan Muhammad untuk mengunjungi kabilah-kabilah yang ada di sekitar Tabuk. Hasilnya, banyak kabilah Arab yang sejak mula lagi tidak mematuhi Kekaisaran Bizantium, dan berpihak kepada Nabi Muhammad SAW dan umat Islam.

Ketika hendak pulang dari Tabuk, rombongan Nabi Muhammad SAW telah didatangi oleh para pendeta Kristian di Lembah Sinai. Nabi Muhammad SAW berbincang dengan mereka, dan terjadi perjanjian yang mirip dengan Piagam Madinah bagi kaum Yahudi. Piagam ini mengandungi perdamaian antara umat Islam dan penganut Kristian di daerah tersebut.

Nabi Muhammad SAW akhirnya kembali ke Madinah setelah 30 hari berada di Tabuk. Umat Islam mahu pun Kekaisaran Bizantium tidak mengalami sebarang korban dari peristiwa ini, kerana tidak terjadinya sebarang pertempuran dalam perang tersebut.

Subscribe to receive free email updates: